Peran Mahasiswa terhadap Penerapan Prinsip Zero Waste di Lingkungan Kampus
Peran Mahasiswa terhadap Penerapan Prinsip Zero Waste di Lingkungan Kampus
Berdasarkan data Jambeck (2015), Indonesia merupakan negara penyumbang sampah plastik ke laut terbesar nomor dua di dunia setelah Cina. Di Provinsi DKI Jakarta saja, pada awal 2018 lalu, sampah yang dihasilkan sudah mencapai 70 ribu ton setiap hari dan 60 persennya merupakan sampah domestik.
Menyikapi fakta tersebut, gaya hidup go green mulai mencuat kembali. Bukan sekadar membuang sampah pada tempatnya, kini hadir gaya hidup go green lain yang dikenal dengan sebutan zero waste life style. Dalam bahasa Indonesia, gaya hidup zero waste berarti nol sampah. Meski tidak sepenuhnya bebas sampah, zero waste life style mampu meminimalkan jumlah sampah yang Anda hasilkan setiap hari. Berikut beberapa peran mahasiswa selaku generasi muda dalam mewujudkan prinsip zero waste baik di lingkungan masyarakat maupun lingkungan kampus.
1. Agen perubahan (Agent of Change)
Mahasiswa memiliki peran untuk melakukan perubahan. Mahasiswa bukan hanya penggagas perubahan, namun juga menjadi objek dan pelaku dalam perubahan. Perubahan yang dapat kita mulai yaitu dari diri sendiri dengan menjadi pribadi yang berdampak untuk lingkungan, seperti halnya kita mencintai lingkungan kampus kita. Mahasiswa juga menjadi pionir dalam pengurangan sampah plastik dengan Zero Waste yang artinya filosofi yang dijadikan sebagai gaya hidup demi mendorong siklus hidup sumber daya sehingga produk-produk bisa digunakan kembali (Andini et al., 2022).
2. Kontrol Sosial (Sosial Control)
Menjadi mahasiswa tidaklah mudah, karena dilihat dari pengetahuan dan tingkat pendidikannya, mahasiswa seringkali dijadikan panutan dalam masyarakat. Masyarakat butuh mahasiswa untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada. Dengan itu, mahasiswa dapat menuangkan ide-idenya untuk mengatasi permasalahan yang ada di masyarakat terutama melalui perilaku mahasiswa hidup di lingkungan.
3. Generasi Penerus yang Tangguh (Iron stock)
Mahasiswa harus menjadi penerus yang tangguh, dengan menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang berintegritas untuk membawa Indonesia ke depannya. Di samping itu kita juga harus mendukung SDGs memiliki makna Tujuan Pembangunan Berkelanjutan untuk kesejahteraan manusia ke seluruh negara-negara secara global mendunia, dengan cara turut menghidupkan “Digital campaign for sustainable environment”
4. Suri Tauladan (Moral Focus)
Mahasiswa harus selalu menjaga karakter dan moral, karena mahasiswa memiliki peran yang berat di masyarakat. Selain itu, kita harus pandai dalam menempatkan diri dan hidup berdampingan dengan masyarakat. Nah poin utama di sini kita sebagai mahasiswa itu dijadikan role model masyarakat bagaimana gaya hidupnya di masyarakat.
Menurut Zero Waste International Alliance, zero waste diartikan sebagai upaya konservasi semua sumber daya dengan cara produksi, konsumsi, penggunaan kembali dan pemulihan produk, pengemasan tanpa pembakaran dan tanpa pembuangan ke tanah, air atau udara yang dapat membahayakan lingkungan maupun kesehatan manusia itu sendiri. Artinya konsep zero waste lebih mengarah kepada pengendalian diri untuk tidak berlebihan dalam penggunaan barang-barang tertentu serta lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
Kesadaran terhadap dampak lingkungan akan banyaknya sampah perlu bisa diterapkan oleh mahasiswa, melalui kesadaran diri masing-masing, misalnya dengan membawa botol minum pribadi, menggunakan sedotan stainless, membuang sampah dengan memisahkan tingkat pengolahannya, dll. Dalam menjalankan gaya hidup zero waste tentunya membutuhkan proses secara perlahan, tetapi bisa dilakukan secara pasti dan konsisten. Dengan adanya kesadaran dalam diri mahasiswa, tentunya dapat berdampak bagi lingkungan masyarakat juga sesuai dengan peran mahasiswa di atas.
Referensi
Andini, S., Saryono, Fazria, A. N., Hasan.
(2022). Strategi Pengolahan Sampah dan Penerapan Zero Waste di Lingkungan Kampus STKIP Kusuma Negara. Jurnal Citizenship Virtues, 2(1), pp.273-281.
Komentar