Pengaruh Hujan Asam pada Biotik dan Abiotik

Pengaruh Hujan Asam pada Biotik dan Abiotik


Istilah hujan asam mengacu pada deposisi atmosfer yang mengandung senyawa asam yang turun ke bumi dalam bentuk hujan, salju, partikulat, gas dan uap dan memberikan berdampak negatif pada bumi. Hujan asam pertama kali dikenalkan oleh Ducros (1845) dan kemudian dijelaskan oleh ahli kimia Inggris Robert Angus Smith (1852) yang studi penelitiannya menghubungkan sumber-sumber terjadinya hujan asam dengan emisi industri dan termasuk pengamatan awal dari efek lingkungan yang terjadi kerusakan (Abbasi et al., 2013). Hujan asam terjadi sebagai dampak pertemuan antara polutan SO2, SO_», NO2, dan HNO3 dongan butir-butir air, Semua unsur polulan ini merupakan hasil sampingan dari proses pembakaran bensin maupun solar baik dari pabrik maupun kendaraan. Sulfur atau belerang merupakan unsur yang terkandung dalam bahan bakar minyak solar. Selama proses pembakaran, belerang ini berkombinasi dengan oksigen dan mengubah bentuk menjadi SO2 dan SO3 (Abbasi, et al., 2013)

Hujan asam merupakan salah satu eksperimen yang menunjukkan gangguan ekosistem skala hemisfer yang tidak disengaja yang memerlukan studi berkelanjutan. Pengamatan baru memberi informasi kepada para ilmuwan tentang kapasitas ekosistem untuk pemulihan dari efek hujan asam. Selain itu, semakin dikenalnya hubungan polutan udara seperti merkuri (Hg), ozon (O3) dengan SO2 dan NOX, dapat mengakibatkan pemicu utama hujan asam (Gumirat, et al., 2021).

Pada dasarnya hujan asam akan memberikan pengaruh pada daerah yang terkena seperti tanah di daerah hutan ataupun persawahan, air, pabrik, atau mesin industri serta bahan-bahan material lainnya. Endapan asam mempengaruhi tanah, air, berbagai makhluk hidup, dan juga tanam-tanaman, sehingga lingkungan di tanah dan air yang berupa makhluk hidup (biotik) akan terpengaruh oleh adanya keasaman di lingkungan hidupnya.

Kelebihan zat asam pada danau akan mengakibatkan sedikitnya species yang bertahan. Jenis plankton dan invertebrate merupakan makhluk yang paling pertama mati akibat pengaruh pengasaman. Jika air di danau memiliki pH di bawah 5, lebih dari 75 % dari spesies ikan akan hilang. Ini disebabkan oleh pengaruh rantai makanan, yang secara signifikan berdampak pada keberlangsungan suatu ekosistem.

Selain pengaruh pada biotik, hujan asam akan berpengaruh pada elemen tidak hidup (abiotik), seperti tetesan-tetesan air hujan asam masuk ke dalam dinding-dinding melalui retakan-retakan, melarutkan kalsium dalam bahan-bahan beton, lalu meleleh keluar dari dinding-dinding. Zat-zat tersebut bersenyawa dengan Karbon Dioksida di udara dan membentuk Kalsium Karbonat, yang tumbuh seperti lapisan kerucut es. Bila kita mengamati "lapisan kerucut es" ini, kita dapat menemukan tetesan-tetesan kotor di puncak "lapisan kerucut es" tersebut.

Air hujan yang mengandung asam melarutkan bukan hanya bahan-bahan beton tetapi juga lantai-lantai dan ukiran-ukiran pualam, bahkan atap-atap dan ukiran-ukiran tembaga. Bila endapan asam terus berlangsung, kita akan mengalami kerusakan yang lebih besar, dan lingkungan hidup kita akan berubah secara signifikan.

Hujan asam juga dapat mempercepat proses pengkaratan dari beberapa material seperti batukapur, pasirbesi, marmer, batu pada dinding beton serta logam. Ancaman serius juga dapat terjadi pada bangunan tua serta monumen, contohnya sebuah monumen bola Persib di Bandung (KMLH, 2002). Hujan asam dapat merusak batuan sebab akan melarutkan kalsium karbonat, meninggalkan
kristal pada batuan yang telah menguap. Seperti halnya sifat kristal semakin banyak akan merusak batuan (Cahyono, 2010)

Sumber referensi :
Abbasi, T., Poornima, P., Kannadasan, T., &
            Abbasi, S. A. (2013). Acid rain: past,
            present, and future. International
            Journal of Environmental Engineering,
            5(3), 229. https://doi.org/10.1504/ijee.
            2013.054703
Cahyono, W. E. (2010). Pengaruh hujan asam
            pada biotik dan abiotik. Berita
            Dirgantara, 8(3).
Gumirat, M. I. I., Satriawan, D., &
            Wahyuningtyas, D. (2021). Dampak
            Hujan Asam Pada Lingkungan. Jurnal
            Pengendalian Pencemaran
            Lingkungan, 3(2), 67-73.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengaruh Asap Kendaraan Bermotor terhadap Efek Rumah Kaca

Bahaya Pestisida dan Pentingnya Penggunaan Alat Pelindung Diri yang Benar